Sumber: GOBangkingRates | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Istilah “upper class” sering dikaitkan dengan kemewahan dan gaya hidup serba mewah. Namun, pada usia 69 tahun, makna kekayaan biasanya lebih tenang dan personal.
Di tahap ini, ukuran utama bukan lagi soal status sosial, melainkan stabilitas dan pilihan hidup yang dimiliki saat memasuki masa pensiun.
Lalu, berapa sebenarnya kekayaan minimum agar dianggap “upper class” di usia 69 tahun?
Patokan Kekayaan (Benchmark)
Mengutip GoBankingRates, secara praktis, status “upper class” pada usia 69 tahun biasanya mengacu pada total kekayaan bersih (net worth) mendekati US$ 3 juta.
Berdasarkan data Federal Reserve tentang kekayaan berdasarkan kelompok usia, rumah tangga di akhir usia 60-an yang masuk kelompok teratas rata-rata memiliki kekayaan sekitar US$ 2,9 juta.
Jika dikonversi ke rupiah dengan kurs saat ini, angka tersebut setara dengan sekitar Rp 47–51 miliar (tergantung kurs dolar)
Angka ini mencakup:
- Nilai rumah (home equity)
- Dana pensiun dan rekening pensiun
- Tabungan
- Investasi lainnya
Artinya, ini adalah gambaran total aset yang dimiliki dan masih dikendalikan seseorang, bukan sekadar pendapatan bulanan.
Baca Juga: Masa Depan Keuangan Anak Cerah: Panduan Lengkap Buka BNI Taplus Anak
Pada usia 69, status “upper class” lebih ditentukan oleh kekuatan aset, bukan gaya hidup atau besar kecilnya gaji.
Kenapa Sering Tidak Terasa “Kaya”?
Meski secara angka terlihat besar, banyak orang dengan kekayaan tinggi tidak merasa benar-benar “kaya” dalam kehidupan sehari-hari.
Alasannya, sebagian besar kekayaan tidak berbentuk uang tunai, melainkan tersimpan dalam:
- Nilai rumah
- Rekening pensiun
- Aset jangka panjang lainnya
Menurut Wealthtender, ekuitas rumah dan tabungan pensiun merupakan komponen terbesar kekayaan orang Amerika di usia lanjut. Artinya, banyak aset tidak mudah dicairkan untuk kebutuhan harian.
Di usia ini, hal tersebut penting karena biaya seperti kesehatan, perawatan rumah, dan perencanaan warisan bisa membuat orang merasa “terikat”, meski secara kertas tergolong kaya.
Baca Juga: Dolar AS Tembus Rp16.858: Cek Kurs Transaksi BI Hari ini Kamis (5/2)
Apa yang Sebenarnya Dibeli oleh Kekayaan Itu?
Di usia 69, kekuatan finansial bukan cuma soal angka, tapi soal kualitas arus pendapatan.
Mereka yang memiliki net worth tinggi biasanya punya beberapa sumber penghasilan pensiun, seperti:
- Jaminan sosial (Social Security)
- Penarikan dana investasi
- Dana pensiun (pension)
- Tabungan pribadi
Panduan Pensiun J.P. Morgan 2025 menunjukkan bahwa sumber pendapatan yang beragam dapat mengurangi stres finansial dan membantu mempertahankan gaya hidup sebelum pensiun.
Fokus Utama di Usia 69
Pada tahap ini, fokus biasanya bergeser dari mengejar pertumbuhan aset ke menjaga stabilitas.
Prioritas utama meliputi:
- Melindungi aset yang sudah dibangun
- Menyederhanakan keuangan
- Mengelola risiko
- Memperhatikan biaya kesehatan dan asuransi
- Menjaga pendapatan tetap stabil dan bisa diprediksi
Kepercayaan diri finansial di usia ini lebih datang dari rasa aman bahwa kebutuhan utama terpenuhi dan masih ada ruang untuk beradaptasi jika kondisi berubah.
Tonton: Anwar Ibrahim Bantah Tukar Guling Wilayah Perbatasan dengan Indonesia
Kesimpulan
Di usia 69 tahun, menjadi “upper class” bukan soal angka fantastis semata, melainkan tentang apa yang bisa didukung oleh kekayaan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Patokan US$ 2,9 juta memberi gambaran, tetapi nilai sesungguhnya ada pada:
- Stabilitas
- Fleksibilitas
- Pilihan hidup
- Rasa aman dan kendali finansial
Bagi banyak orang, kesuksesan finansial di masa pensiun terlihat lebih sederhana dari yang dibayangkan. Bukan soal pamer kekayaan, tapi soal ketenangan, kepercayaan diri, dan bebas dari tekanan keuangan yang terus-menerus.
Selanjutnya: Medco Energi (MEDC) Kantongi Pinjaman Bank Rp 800 Miliar Buat Modal Kerja
Menarik Dibaca: Bahaya Cuka Apel: 5 Efek Tak Terduga Jika Konsumsi Berlebihan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













