kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45908,54   -10,97   -1.19%
  • EMAS1.350.000 -0,95%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Jadi Tulang Punggung, Bank-Bank Ini Geber Bisnis Wholesale Banking


Kamis, 27 Juli 2023 / 06:44 WIB
Jadi Tulang Punggung, Bank-Bank Ini Geber Bisnis Wholesale Banking
ILUSTRASI. Segmen bisnis wholesale banking (korporasi dan komersial) di industri perbankan masih jadi salah satu penggerak roda bisnis perbankan.

Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Segmen bisnis wholesale (korporasi dan komersial) di industri perbankan masih jadi salah satu penggerak roda bisnis perbankan.

Hal ini selaras dengan data Survei Bank Indonesia (BI) yang mencatat pembiayaan korporasi pada Juni 2023 terindikasi meningkat, terutama didorong oleh sektor konstruksi, perdagangan, dan pertambangan. Meskipun memang, BI memproyeksikan kebutuhan pembiayaan korporasi 3 bulan ke depan tidak akan setinggi tiga bulan terkahir.

PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) misalnya, menyebut, segmen bisnis wholesale menjadi roda penggerak bisnis dan mendominasi kredit di Bank Mandiri. Tercatat penyaluran kredit segmen wholesale Bank Mandiri tumbuh sekitar 7%-8% secara year on year di semester I 2023.

Direktur Corporate Banking Bank Mandiri Susana Indah Kris Indriati menyampaikan, pertumbuhan kredit di Bank Mandiri bertumbuh secara prudent dan sehat dengan non performing loan (NPL) terjaga dengan baik dan turun sekitar 40 bps di semester I 2023 dibandingkan tahun 2022.

"Dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan kondisi perkreditan nasional, segmen wholesale di Bank Mandiri diperkirakan akan tumbuh sebesar 8-8,5% YoY untuk tahun 2023," kata Susana kepada Kontan, Rabu (26/7).

Baca Juga: Naik 30,9%, Panin Bank Catatkan Laba Bersih Rp 2,1 Triliun di Semester 1-2023

Di sisi lain, meski survei BI memprediksi kebutuhan pembiayaan korporasi 3 bulan ke depan tidak akan setinggi sebelumnya, namun menurut Susan, menuju tahun pemilu, secara umum harusnya tren investasi, dan perkembangan pertumbuhan ekonomi,  tidak menekan pertumbuhan kredit korporasi dan komersial.

"Pada segmen tersebut umumnya perusahaan atau klien telah membuat long term investment decision terkait dengan ekspansi bisnis yang akan dilakukan. Selain itu tren pertumbuhan bisnis umumnya juga selaras dengan regulasi dan strategi pengembangan yang dicanangkan oleh pemerintahan terpilih," kata Susan

Di samping itu, Susan menyampaikan terdapat sektor-sektor dengan karakteristik yang resilient tidak terpengaruh persiapan tahun politik, antara lain sektor FMCG dan logistik.

Tahun ini, Bank Mandiri secara umum menargetkan pertumbuhan bisnis di sektor-sektor yang memiliki potensi yang baik.

Susan merinci, sektor penopang kredit di segmen wholesale antara lain terdiri dari sektor pertambangan, perkebunan, telekomunikasi, dan kesehatan. Sektor tersebut merupakan sektor yang memiliki benefit secara bisnis dan sosial dalam jangka panjang.

Disamping sektor tersebut, Susan juga mengatakan terdapat beberapa sektor yang sedang meningkat dari sisi permintaan, yang juga didukung penuh kebijakan pemerintah dan tren Investasi. "Sektor ini adalah sektor pertambangan dan pengelolaan nikel dan hilirisasinya sebagai penunjang industry electric vehicle," terang Susan.

Senada, Direktur Corporate & International Banking PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) Silvano Winston Rumantir  juga optimistis untuk segmen wholesale di semester kedua tahun ini.

"Untuk semester kedua, kami optimis untuk tumbuh lebih tinggi. Terlebih kami memiliki target pertumbuhan kredit 7% hingga 9%," kata Silvano kepada Kontan, Rabu (26/7).

BNI mencatat portofolio kredit di segmen wholesale banking pada semester pertama 2023 mencapai Rp 650,8 triliun. Salah satunya ditopang segmen corporate swasta blue chip yang tumbuh 17% secara year on year.

"Kami memiliki pipeline yang kuat di segmen korporasi hingga akhir tahun, yaitu perusahaan blue chip dari beberapa sektor ekonomi yang prospektif, di antaranya manufaktur, natural resources, dan infrastruktur," kata Silvano.

Di tambah lagi dengan pelaksanaan pemilu, menurut Silvano, justru berpotensi meningkatkan consumer loan dan kredit modal kerja, dimana lebih banyak katalis menjelang akhir tahun dari belanja pemilu.

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga mencatat peningkatan kredit yang solid di seluruh segmen bisnisnya. BCA mencatat penyaluran kredit korporasi di semester I-2023 sebesar Rp 326,02 triliun atau tumbuh sekitar 5,1% (YoY) dan tumbuh 1,2% (QoQ).

Sementara itu untuk segmen kredit komersial dan SME tercatat sebesar Rp 219,18 triliun di semester I-2023, atau tumbuh 10,9% (YoY) dan tumbuh 4,2% (QoQ).  Secara keseluruhan, total kredit BCA naik 9,0% (YoY) menjadi Rp735,9 triliun di Juni 2023.

Executive Vice President Secretariat & Corporate Communication BCA, Hera F. Haryn merinci, kontributor terbesar bagi pertumbuhan kredit komersial dan UKM berasal dari sektor transportasi dan logistik, otomotif dan alat transportasi, serta retailer dan toserba. Sementara itu, kontributor terbesar bagi pertumbuhan kredit korporasi berasal dari sektor properti dan konstruksi serta infrastruktur sarana angkutan.

"Mempertimbangkan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang positif serta inflasi yang terkendali, kami optimis penyaluran kredit masih akan tumbuh positif ke depan, termasuk untuk segmen korporasi. BCA juga akan memperkuat penyaluran kredit ke sektor UMKM," kata Hera kepada Kontan, Rabu (26/7).

BCA berharap total kredit dapat tumbuh di kisaran 10%-12% di tahun 2023.

Baca Juga: Perbankan Kecil Kompak Catatkan Pertumbuhan Laba Signfikan di Semester I-2023

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Success in B2B Selling Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung

×