kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.413.000   30.000   1,26%
  • USD/IDR 16.702   47,00   0,28%
  • IDX 8.509   -37,16   -0,43%
  • KOMPAS100 1.173   -6,40   -0,54%
  • LQ45 846   -6,27   -0,74%
  • ISSI 301   -0,86   -0,28%
  • IDX30 436   -3,82   -0,87%
  • IDXHIDIV20 504   -3,85   -0,76%
  • IDX80 132   -0,78   -0,59%
  • IDXV30 138   0,50   0,36%
  • IDXQ30 139   -1,24   -0,89%

Jebakan FOMO Emas 2026: Waspada 3 Risiko Utama di Balik Prediksi US$ 4.000-US$ 5.300


Senin, 01 Desember 2025 / 05:58 WIB
Jebakan FOMO Emas 2026: Waspada 3 Risiko Utama di Balik Prediksi US$ 4.000-US$ 5.300
ILUSTRASI. Banyak analis meyakini, harga emas masih akan naik pada 2026, dan permintaannya tetap tinggi sepanjang tahun. REUTERS/Maxim Shemetov

Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Akhir November 2025 ditutup dengan catatan harga emas yang spektakuler. Euforia pasar semakin memanas setelah lembaga keuangan global, merilis proyeksi bullish bahwa harga emas spot dunia diprediksi akan terus menanjak, bahkan berpotensi menembus kisaran US$ 4.000 hingga US$ 5.300 per ounce pada tahun 2026. 

Melansir CBS News, banyak analis meyakini, harga emas masih akan naik pada 2026, dan permintaannya tetap tinggi sepanjang tahun.

“Alasan strategis untuk menyimpan emas tetap kuat hingga 2026,” kata Joseph Cavatoni dari World Gold Council.

Menurutnya, nilai emas tetap relevan sebagai alat diversifikasi, aset likuid, serta pelindung dari gejolak ekonomi dan inflasi.

Ben Nadelstein dari Monetary Metals menambahkan bahwa kenaikan harga emas masih mungkin berlanjut karena dolar AS masih berpotensi melemah.

Namun, seberapa tinggi kenaikannya bergantung pada beberapa faktor: geopolitik, kebijakan bank sentral, inflasi, dan keputusan The Fed.

Namun, sebelum Anda terjangkit FOMO (Fear of Missing Out) dan memborong emas Antam dengan harga Rp 2,4 Jutaan per gram (Sumber: Logam Mulia, 30/11), perlu diwaspadai bahwa setiap prediksi punya celah. Strategi Newsjacking yang cerdas tidak hanya menunggangi tren, tetapi juga mengupas risiko. Berikut tiga jebakan realita yang harus diantisipasi investor emas.

Baca Juga: Sisa Kuota KUR Rp 40 T, Ini Cara Pinjam KUR BRI & Tabel Angsuran Desember 2025

Tiga Skema yang Mampu Menggagalkan Target US$ 4.000

1. Risiko The Fed Delayed Action: Suku Bunga Tertahan

Pendorong utama prediksi US$ 4.000 per ons troi  adalah ekspektasi bahwa The Fed akan melakukan serangkaian pemangkasan suku bunga di 2026. Ketika suku bunga turun, dolar AS melemah, dan emas, yang tidak memberikan imbal hasil bunga, menjadi lebih menarik.

Realita Risiko: Jika inflasi AS ternyata kembali membandel, atau data ketenagakerjaan masih terlalu kuat, The Fed bisa saja menunda atau mengurangi jumlah pemangkasan suku bunga. Menurut analisis CBS News (30/11), penundaan ini akan membuat opportunity cost memegang emas kembali tinggi, memaksa harga kembali terkoreksi tajam.

Baca Juga: Hujan Dividen di Akhir Tahun! 8 Emiten Siapkan Pembayaran ke Investor Mulai Desember

2. Penguatan Rupiah Mendadak (Efek Kurs Menghapus Cuan)

Investor Indonesia yang membeli emas fisik (Antam, Pegadaian) sering lupa bahwa harga domestik adalah hasil konversi harga emas dunia (USD) dikalikan dengan kurs Rupiah terhadap Dolar (IDR/USD).

Realita Risiko: Apresiasi harga emas US$ 4.000 per ons troi di pasar global bisa jadi tidak terasa di kantong jika di saat yang sama, Rupiah tiba-tiba menguat signifikan. Misalnya, Rupiah menguat dari Rp 15.500 per dollar menjadi Rp 14.500 di tengah kenaikan emas. 

Efek penguatan kurs ini bisa menghapus sebagian besar capital gain yang diperoleh dari kenaikan harga emas dunia.

3. Profit Taking Massal (Jebakan Harga Puncak)

Kenaikan harga emas yang sangat cepat dan agresif di akhir tahun 2025 membuka peluang bagi investor institusi besar dan bank sentral yang sudah membeli emas sejak harga masih di bawah US$ 3.000 per ons troi untuk melakukan profit taking (aksi ambil untung).

Realita Risiko: Jika harga spot mendekati US$ 4.000-US$ 4.200 per ons troi, tingkat psikologis ini sering menjadi batas penjualan besar. Profit taking ini dapat memicu aksi jual berantai, menghasilkan koreksi harga yang tajam dan cepat (disebut sharp sell-off). Investor ritel yang baru masuk pada harga puncak (US$ 4.000) berisiko besar terjebak dalam koreksi 10-15%.

Tonton: Kementerian ESDM Ungkap Skema Bea Keluar Batubara Berbeda dengan Emas

Kesimpulan:

Dalam investasi emas, investor yang realistis harus memiliki dana cadangan (cash reserve) untuk membeli saat terjadi koreksi tajam. Jangan pernah memasukkan seluruh modal saat harga berada di level puncak. Emas adalah aset jangka panjang yang dibeli untuk proteksi, bukan hanya spekulasi short-term.

Selanjutnya: Perbankan Kian Sulit Kejar Target, Pertumbuhan Kredit dan Laba Melambat

Menarik Dibaca: Promo Superindo Weekday 1-4 Desember 2025, Salak Pondoh-Wincheez Diskon hingga 45%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Mitigasi, Tips, dan Kertas Kerja SPT Tahunan PPh Coretax Orang Pribadi dan Badan Supply Chain Management on Practical Inventory Management (SCMPIM)

×