Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Harga emas diproyeksikan tetap akan tinggi di sepajang tahun, meskipun saat ini tengah berada di dalam tren koreksi. Hal ini karena emas masih mendulang minat yang tinggi dari bank sentral maupun pembeli individual.
Indonesia's Head of Research DBS William Simadiputra mengatakan, harga emas dunia masih akan berada di kisaran US$ 4.500 sampai US$ 5.000 per troy ounce.
"Jadi secara supply dan demand memang harganya sepertinya akan tetap tinggi," kata dia ketika ditemui di Jakarta, Rabu (4/2/2026).
Selain itu, ia juga mengatakan, tingginya harga emas dipengaruhi oleh kondisi geopolitikal yang terjadi. Perkembangan geopolitik yang terus memunculkan berita tak terduga menjadi salah satu faktor yang membuat harga emas naik.
"Saat ketidakpastian bisa dibilang menjadikan emas sebagai sarana untuk membeli aset alternatif," imbuh dia.
Biasanya investor juga membeli emas sebagai sarana lindung nilai terhadap mata uang. Tak hanya itu, William mengungkapkan, kenaikan harga emas juga dipengaruhi oleh pelemahan indeks dollar AS.
Peristiwa ini membuka peluang bagi investor untuk kembali lagi pada logam mulia atau emas sebagai kurs alternatif.
Baca Juga: Ciri Saham Gorengan: Investor Pemula Wajib Tahu Agar Cuan Aman!
Proyeksi harga maksimal emas
Lebih lanjut, William memproyeksikan dalam skema paling positif harga emas diproyeksikan mencapai US$ 5.500 per troy ounce.
"Kalau kita mungkin di 5.000-an (dollar AS per troy ounce) istilahnya dengan maksimum 5.500," ungkap dia.
Adapun, harga emas rata-rata diproyeksikan akan berada di level 5.000-an dollar AS per troy ounce.
Sebagai perbandingan, ia bilang, harga tersebut mungkin setara dengan Rp 3,6 juta per gram untuk emas batangan di Indonesia.
William menerangkan, emas masih menjadi bagian dari portofolio investasi sebagain besar orang meskipun harganya tinggi.
Kondisi ini diprediksi masih akan terus bertahan di tengah isu geopolitik dan dedollarisasi yang terjadi.
"Di tengah ketidakpastian di geopolitik mungkin menurut saya sih bakal di 5.000 akan bertahan," ucap dia.
Baca Juga: Harga Emas Antam Melesat Hari Ini, Cek Daftar Lengkapnya Disini!
Komoditas masih bakal tumbuh
Sementara itu, Chief Investment Officer DBS, Hou Wey Fook menjelaskan,pasar komoditas diperkirakan memasuki fase yang lebih konstruktif menuju 2026.
Hal ini didukung oleh ekspektasi gencatan dagang dan penurunan suku bunga yang memberikan dorongan positif bagi sentimen makro.
Meski begitu, Wey Fook bilang, tarif yang masih bertahan menuntut investor untuk tetap selektif dalam menempatkan portofolio.
Logam industri, khususnya tembaga dan logam tanah jarang, dipandang berada pada posisi strategis mengingat peran strukturalnya dalam ekonomi global.
"Di sisi lain, tren kenaikan jangka panjang emas tetap solid sebagai aset lindung nilai, didukung oleh tekanan monetasi, ketidakpastian, serta strategi diversifikasi cadangan bank sentral," ujar dia.
Harga emas tembus US$ 5.000
Adapun, harga emas dunia kembali menguat dan tembus di atas US$ 5.000 per ons pada Rabu (4/2/2026), setelah Amerika Serikat (AS) menembak jatuh drone Iran di Laut Arab.
Logam mulia yang kerap dianggap sebagai aset safe haven saat ketidakpastian meningkat itu melonjak ke US$ 5.061 per ons, setelah sebelumnya mengalami penurunan tajam dalam beberapa hari terakhir.
Lonjakan tersebut membuat harga emas kini sekitar 80% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dikutip dari BBC, Kamis (5/2/2026), juru bicara militer AS mengonfirmasi drone Iran ditembak jatuh setelah "mendekati secara agresif" kapal induk Amerika di Laut Arab.
Pemerintah Iran belum memberikan komentar terkait insiden yang terjadi pada Selasa tersebut.
Sebelumnya, harga emas terdorong ke rekor tertinggi akibat perubahan cepat kebijakan perdagangan AS, ketidakpastian geopolitik yang berkelanjutan, konflik global, serta peningkatan pembelian emas oleh bank sentral.
Sebagai catatan, emas sempat menyentuh puncak US$ 5.500 pada Januari.
Harga emas sempat anjlok
Namun, pada Jumat (30/1/2026), lalu harga emas anjlok setelah Presiden AS Donald Trump mencalonkan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve menggantikan Jerome Powell.
Warsh dipandang investor sebagai pilihan yang relatif aman. Penunjukan ini meredakan kekhawatiran terhadap independensi bank sentral setelah serangan Trump terhadap Powell dan kebijakan penurunan suku bunga.
Harga emas jatuh 9 persen pada hari itu, menjadi penurunan harian terbesar sejak 1983.
Tonton: Bank Sentral China Borong Emas 15 Bulan Berturut-turut, LM Antam Ikut Melonjak
Berdasarkan data Bloomberg, harga emas yang awal Januari berada di US$ 4.319 per ons sempat melonjak ke US$ 5.563 pada 29 Januari 2026.
Harga emas kemudian turun ke sekitar US$ 4.500 pada 2 Februari 2026, sebelum kembali naik ke US$ 5.061 pada pukul 10.00 GMT, 4 Februari 2026.
Artikel ini sudah tayang di Kompas.com berjudul "Di Tengah Tren Koreksi, Harga Emas Diprediksi Masih Bakal Tinggi"
Selanjutnya: Cuaca Kaltim, Senin (9/2): Waspada Hujan Ringan di IKN dan Kota Besar Hari Ini!
Menarik Dibaca: Ramalan Zodiak Keuangan dan Karier Hari Ini Senin 9 Februari 2026, Fokus Kembali
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













