kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.837.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.991   62,00   0,37%
  • IDX 7.097   -67,03   -0,94%
  • KOMPAS100 977   -12,33   -1,25%
  • LQ45 719   -12,76   -1,74%
  • ISSI 250   -1,82   -0,73%
  • IDX30 391   -7,50   -1,88%
  • IDXHIDIV20 489   -9,60   -1,93%
  • IDX80 110   -1,54   -1,38%
  • IDXV30 134   -2,11   -1,54%
  • IDXQ30 128   -2,18   -1,68%

Rupiah Berpotensi Tembus Rp 17.100 per Dolar AS di Awal Pekan, Ini Biang Keroknya


Senin, 30 Maret 2026 / 04:19 WIB
Rupiah Berpotensi Tembus Rp 17.100 per Dolar AS di Awal Pekan, Ini Biang Keroknya
ILUSTRASI. Ketidakpastian ekonomi global dan konflik geopolitik menekan Rupiah. (TRIBUNNEWS/Jeprima)

Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Nilai tukar rupiah diproyeksikan melemah pada awal pekan depan atau Senin (30/3/2026). Mata uang Garuda berpotensi menembus level Rp 17.100 per dolar Amerika Serikat (AS).

Nilai tukar rupiah di pasar spot nyaris sentuh level psikologis Rp 17.000 per dollar AS saat penutupan perdagangan Jumat (27/3/2026).

Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda ditutup terdepresiasi 76 poin atau 0,45 persen ke posisi Rp 16.980 per dolar AS.

Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai penguatan mata uang Paman Sam menjadi faktor utama yang membebani rupiah.

Indeks dolar pada pekan depan diperkirakan berada di kisaran 99,3 hingga 101,6, dengan kecenderungan menguat seiring meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi global.

“Rupiah kemungkinan besar ini akan terus mengalami pelemahan. Range-nya sudah saya buat, dirilis kemarin di hari Jumat. Tolong dibuka kembali, itu kemungkinan besar akan menuju level Rp 17.100 (per dolar AS), ingat, Rp 17.100,” ujar Ibrahim kepada wartawan, Minggu (29/3/2026).

Tekanan terhadap rupiah juga diperparah oleh eskalasi konflik geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah.

Baca Juga: Moody's Ubah Outlook 5 Bank, Perbanas Buka Suara

Ketegangan di sekitar Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital distribusi energi dunia, memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak global.

Konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat, serta serangan terhadap fasilitas energi di kawasan tersebut, berpotensi menurunkan produksi minyak secara signifikan.

Bahkan, pengurangan produksi di Timur Tengah disebut mencapai hingga 10 juta barrel per hari.

“Sehingga ada kemungkinan besar untuk produksi minyak dan gas, ini mengalami penurunan yang cukup signifikan. Bahkan Timur Tengah sendiri sampai saat ini mengalami pengurangan itu 10 juta barrel per hari, itu baru Timur Tengah,” paparnya.

Di sisi lain, konflik di Eropa Timur juga belum menunjukkan tanda mereda.

Serangan Ukraina terhadap instalasi minyak dan gas Rusia memperbesar risiko gangguan suplai energi global, yang pada akhirnya mendorong kenaikan harga komoditas dan memperkuat dolar AS.

“Nah di sisi lain pun juga bahwa Ukraina pun juga melakukan penyerangan terhadap instalasi-instalasi minyak, gas di Rusia,” pungkas Ibrahim.

Dari sisi kebijakan moneter AS, dinamika politik domestik juga turut mempengaruhi arah pasar.

Tonton: CoreTax Sering Bermasalah, Purbaya Ungkap Dugaan Oknum Internal Mainkan Vendor

Menurunnya tingkat kepercayaan publik terhadap Presiden Donald Trump di tengah kebijakan geopolitik agresif dinilai menambah ketidakpastian.

Selain itu, ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga bank sentral AS, The Fed, juga menjadi perhatian.

Pergantian kepemimpinan di bank sentral AS yang diperkirakan terjadi dalam waktu dekat membuka peluang perubahan kebijakan, termasuk kemungkinan penurunan suku bunga meski inflasi masih tinggi.

Sumber: https://money.kompas.com/read/2026/03/29/200000426/rupiah-berpotensi-tembus-rp-17.100-per-dollar-as-apa-penyebabnya-

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

×