kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.843.000   -50.000   -1,73%
  • USD/IDR 16.995   46,00   0,27%
  • IDX 7.107   84,55   1,20%
  • KOMPAS100 978   11,34   1,17%
  • LQ45 722   8,69   1,22%
  • ISSI 249   4,23   1,73%
  • IDX30 393   5,52   1,42%
  • IDXHIDIV20 489   3,83   0,79%
  • IDX80 110   1,42   1,31%
  • IDXV30 134   2,21   1,67%
  • IDXQ30 127   1,16   0,92%

Rupiah Terancam Sentuh Rp 20.000 dalam Waktu Singkat, Ini Analisa Ekonom


Selasa, 24 Maret 2026 / 04:16 WIB
Rupiah Terancam Sentuh Rp 20.000 dalam Waktu Singkat, Ini Analisa Ekonom
ILUSTRASI. Pelemahan rupiah bukan isapan jempol. Proyeksi terbaru menunjukkan potensi anjlok hingga Rp 20.400 per dolar AS. (TRIBUNNEWS/Jeprima)

Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Nilai tukar rupiah dinilai menyimpan kerentanan besar di tengah tekanan global yang belum mereda.

Jika kondisi eksternal terus memburuk, rupiah berpotensi melemah hingga mendekati Rp 20.000 per dollar AS dalam waktu relatif singkat.

Pandangan ini mengemuka di tengah narasi bahwa ekonomi Indonesia relatif kuat, ditopang cadangan devisa yang mencapai lebih dari US$ 150 miliar atau sekitar Rp 2.400 triliun (kurs Rp 16.000 per dollar AS), serta struktur utang yang didominasi tenor jangka panjang.

“Indonesia terlena atau tepatnya, diterlena oleh narasi bahwa ekonomi Indonesia kuat, cadangan devisa besar, mencapai lebih dari 150 miliar dollar AS, dan struktur utang aman karena didominasi tenor jangka panjang,” ujar Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan dalam keterangan pers, Senin (23/3/2026).

Menurut dia, gambaran tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi yang sebenarnya.

“Masalahnya pernyataan tersebut tidak sepenuhnya sesuai dengan fakta. Fundamental ekonomi baik fiskal, moneter, dan nilai tukar sebenarnya sangat lemah, kalau tidak mau disebut rapuh,” paparnya.

Baca Juga: BNI Tutup Layanan Internet Banking Mulai 21 April 2026, Apa Alasannya?

Ketergantungan pada Aliran Modal Asing

Anthony menilai, struktur ekonomi Indonesia masih rentan terhadap guncangan eksternal, terutama yang bersumber dari geopolitik global.

Konflik di Iran, misalnya, berpotensi mengganggu pasokan minyak dan gas dunia, yang kemudian berdampak pada stabilitas ekonomi, termasuk nilai tukar.

Ia juga menyoroti cadangan devisa yang selama ini dianggap sebagai bantalan utama.

Menurut dia, besarnya cadangan devisa tidak sepenuhnya mencerminkan kekuatan ekonomi riil.

“Cadangan devisa Indonesia besar dalam angka, tetapi terisi gelembung akumulasi utang luar negeri, terutama oleh pemerintah dan Bank Indonesia. Dengan kata lain, utang luar negeri tidak digunakan untuk kegiatan produktif, tetapi untuk memperkuat cadangan devisa dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi,” tukasnya.

Dalam praktiknya, stabilitas rupiah sangat bergantung pada aliran dana eksternal.

Ketika arus modal masuk melambat atau bahkan keluar, tekanan terhadap nilai tukar akan meningkat signifikan.

Dalam satu dekade terakhir, pola tersebut terlihat berulang.

Pada 2014-2015, cadangan devisa turun sekitar US$ 9,44 miliar atau sekitar Rp 151,04 triliun, sementara rupiah melemah sekitar 20% dari Rp 12.185 menjadi Rp 14.650 per dollar AS.

Pemerintah saat itu merespons dengan menerbitkan obligasi internasional sekitar US$ 6,85 miliar atau sekitar Rp 109,6 triliun untuk meredam tekanan.

Baca Juga: Kapan Pegadaian Buka Pasca Lebaran? Ini Jadwal dan Outlet yang Tetap Buka

Pada 2018, tekanan kembali terjadi dengan cadangan devisa terkuras US$ 17,13 miliar atau sekitar Rp 274,08 triliun.

Rupiah pun melemah sekitar 13,5% ke Rp 15.202 per dollar AS, diikuti peningkatan penerbitan obligasi global dan sukuk.

Tekanan paling tajam terjadi pada awal pandemi Covid-19 tahun 2020.

Dalam satu bulan, cadangan devisa turun 10,7 miliar dollar AS atau sekitar Rp 171,2 triliun, sementara rupiah anjlok sekitar 20% hingga menyentuh Rp 16.575 per dollar AS.

Skenario Terburuk: Rupiah ke Rp 20.400

Dari berbagai episode tersebut, terlihat pola yang konsisten, yakni stabilitas rupiah lebih ditentukan oleh keberlanjutan arus modal asing dibandingkan besarnya cadangan devisa.

Hal ini juga tercermin dalam tren jangka panjang.

Cadangan devisa meningkat dari sekitar US$ 100 miliar atau Rp 1.600 triliun pada 2014 menjadi sekitar US$ 150 miliar atau Rp 2.400 triliun pada awal 2026.

Namun, rupiah justru melemah dari kisaran Rp 12.000 menjadi Rp 17.000 per dollar AS.

Memasuki 2026, tekanan kembali muncul.

Dalam dua bulan pertama, cadangan devisa turun sekitar US$ 4,6 miliar atau sekitar Rp 73,6 triliun, meskipun pemerintah telah menarik utang luar negeri sekitar US$ 7,1 miliar atau sekitar Rp 113,6 triliun.

Dalam kondisi tersebut, ruang intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar menjadi semakin terbatas, terutama jika arus keluar modal berlanjut.

Anthony memperkirakan, pelemahan rupiah sebesar 15% hingga 20% bukanlah skenario ekstrem.

Dengan posisi saat ini di sekitar Rp 17.000 per dollar AS, depresiasi 20% dapat mendorong rupiah ke kisaran Rp 20.400.

Dalam skenario geopolitik yang lebih buruk, pelemahan bahkan bisa terjadi lebih cepat, dalam rentang tiga hingga enam bulan.

Ia mengingatkan, pengalaman Krisis Moneter Asia 1997 menjadi pelajaran penting bagi Indonesia dalam menghadapi tekanan nilai tukar.

“Sejarah menunjukkan kejatuhan rupiah sebesar 25-30% pada triwulan ketiga 1997 membuat pemerintah meminta bantuan likuiditas kepada IMF. Ketika respons datang terlambat, krisis valuta sudah membesar. Rupiah tergelincir seperti bola salju yang tidak terkendali,” lanjutnya.

Namun di tengah kekhawatiran pelemahan rupiah, pemerintah menyampaikan pandangan berbeda.

Otoritas fiskal menilai tekanan terhadap nilai tukar masih dalam batas wajar dan tidak mencerminkan kondisi krisis.

Pemerintah Nilai Rupiah Masih Terkendali

Pemerintah melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, pelemahan rupiah tidak seburuk yang dipersepsikan sebagian pihak.

Ia menilai, gejolak global memang memengaruhi pergerakan mata uang, tetapi dampaknya terhadap rupiah relatif terbatas.

“Ada yang bilang rupiah hancur. Tapi kalau kita lihat betul, Pak, itu sejak perang, rupiah itu hanya terdepresiasi sebesar 0,3 persen,” ujar Purbaya dalam sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/3/2026).

Menurut dia, angka tersebut mencerminkan daya tahan ekonomi Indonesia yang masih cukup kuat.

Tonton: Lebaran 2026: 10 Juta Orang Tercatat Mudik Gunakan Transportasi Umum

Indikator risiko seperti premi Credit Default Swap (CDS) tenor lima tahun juga stabil, begitu pula selisih imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dengan obligasi Amerika Serikat yang hanya naik sekitar 3 basis poin ke level 243 basis poin.

“Artinya asing masih percaya ke kita, yang domestik aja yang nggak percaya, Pak,” tutur Purbaya.

Rupiah sendiri sempat berada di level Rp 16.958 per dollar AS setelah melemah 0,38%.

Meski demikian, pemerintah menilai stabilitas tetap terjaga di tengah tekanan global.

Sumber: https://money.kompas.com/read/2026/03/23/200000226/dinilai-rentan-rupiah-terancam-sentuh-rp-20.000-dalam-waktu-singkat?page=all#page1

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

×