kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.631.000   29.000   1,11%
  • USD/IDR 16.870   24,00   0,14%
  • IDX 8.885   -52,03   -0,58%
  • KOMPAS100 1.226   -2,75   -0,22%
  • LQ45 867   -1,47   -0,17%
  • ISSI 324   0,11   0,04%
  • IDX30 441   1,22   0,28%
  • IDXHIDIV20 520   3,38   0,65%
  • IDX80 136   -0,29   -0,21%
  • IDXV30 144   0,32   0,22%
  • IDXQ30 142   1,10   0,79%

Target IHSG 9.800: Sektor Komoditas Mana yang Wajib Anda Koleksi?


Selasa, 13 Januari 2026 / 05:08 WIB
Target IHSG 9.800: Sektor Komoditas Mana yang Wajib Anda Koleksi?
ILUSTRASI. DBS Bank memprediksi IHSG melesat ke 9.800, didorong siklus komoditas yang kuat. Cek spesifik tembaga dan aluminium yang diprioritaskan. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)

Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - The Development Bank of Singapore Limited atau DBS Bank memprediksi pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) pada 2026 dapat menyentuh level 9.800.

Senior Investment Strategist DBS Bank Joanne Goh mengatakan, secara umum IHSG telah mengungguli banyak indeks-indeks yang ada di Asia Tenggara. Namun demikian, hal tersebut sebagian besar masih didorong oleh saham-saham komoditas.

"Ya kami melihat indeks seharusnya cenderung naik tahun ini. Bahkan kami menetapkan target indeks JCI (Jakarta Composite Index) di angka 9.800," kata dia dalam Media Briefing di Jakarta, Senin (12/1/2026).

Dalam kesempatan yang sama, Investment Strategist DBS Bank Jun Yong Goh menjelaskan, siklus komoditas masih akan berjalan dengan kuat. Apalagi, beberapa komoditas mengalami kelangkaan akibat kondisi geopolitik dan juga keamanan strategis.

Menurut dia, kondisi ini seharusnya menguntungkan Indonesia sebagai negara di ASEAN yang memiliki industri komoditas yang kuat.

"Itu salah satu hal positif bagi Indonesia," imbuh dia.

Baca Juga: Nasib Suku Bunga 2026 Menurut HSBC: BI Cuma Cari Celah Saat Dolar Melemah

Sektor komoditas bakal bersinar tahun ini

Ia menjabarkan, sektor komoditas sendiri telah mendapatkan angin segar dengan beberapa sentimen, salah satunya adalah pemangkasan suku bunga acuan sepanjang 2025.

"Jadi saya pikir untuk 2026, prospek makro untuk komoditas akan sedikit lebih baik daripada 2025," ungkap dia.

Selain pemangkasan suku bunga, kuartal IV-2025 juga diwarnai dengan beberapa perkembangan laporan-laporan ekonomi yang dinilai positif.

"Saya pikir investor dapat terus maju dan beroperasi dengan sedikit lebih yakin," ungkap dia.

Selain itu, ia mengungkapkan, DBS melihat Indonesia memiliki kebijakan fiskal yang menjadi pendorong besar bagi pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut terlihat terutama dari tingkat konsumsi yang terkait dengan telekomunikasi, perbankan, dan sektor konsumer.

Ke depan, IHSG juga akan dipengaruhi oleh kondisi makro yang dinilai lebih kondusif dan stabil dibandingkan tahun lalu.

"Kami berpendapat bahwa stabilitas yang lebih besar akan membawa lingkungan yang lebih kuat bagi Indonesia," ujar dia.

Namun demikian, Jun Yong juga meningatkan adanya potensi hambatan yang mungkin terjadi pada perekonomian Indonesia. Untuk itu, ia mengimbau masyarakat untuk tidak bergantung pada semua sektor komoditas.

Baca Juga: Kartu Debit BNI Hilang? Ini Biaya Ganti dan Risiko saat Telat Mengurus

Adapun, sektor komoditas yang bakal memiliki kinerja gemilang tahun ini adalah logam mulia. Secara spesifik beberapa komoditas yang kemungkinan akan bersinar yakni tembaga dan aluminium.

Sebagai catatan, tembaga berguna pada berbagai macam penggunaan jaringan listrik kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), kendaraan listrik, hingga energi terbarukan.

Kemudian, komoditas yang masuk ke dalam logam tanah jarang (rare earth) juga sedang menjadi sorotan. Penggunaannya banyak diperlukan untuk alat pertahanan hingga barang elektronik konsumen.

"Ini area utama yang kami prioritaskan dalam komoditas," ucap dia.

IHSG sempat cetak rekor tertinggi lagi

IHSG kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa atau all time high (ATH) dengan menyentuh level psikologis 9.000 pada perdagangan sesi pertama, Senin (12/1/2026).

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada pukul 12.57 WIB, IHSG berada di level 8.947,963, naik 11,208 poin atau 0,13%.

Sejak awal perdagangan, indeks bergerak di zona hijau dan dibuka di posisi 8.991,760. Pada sesi awal, IHSG menembus level tertinggi harian di 9.000,967.

Namun penguatan tersebut belum mampu bertahan lama. Tekanan jual yang muncul membuat indeks kembali bergerak turun dan berfluktuasi di bawah 9.000.

Dalam perjalanannya, IHSG sempat menyentuh angka terendah harian di 8.941,715, sebelum akhirnya kembali menguat tipis dan bertahan di zona hijau siang ini.

Aktivitas transaksi di pasar saham terpantau cukup ramai.

Baca Juga: Cara Bayar Listrik PLN Gratis Admin Pakai Aplikasi ShopeePay

Volume perdagangan mencapai 33,856 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 18,724 triliun. Frekuensi transaksi mencapai 2.624.176 kali.

IHSG hari ini sempat berada di level di 8.715,411 atau turun 250 poin dibandingkan saat pembukaan.

Sedikit catatan, pada perdagangan Kamis (8/1/2026), indeks sempat mencetak ATH dengan menyentuh level 9.000 secara intraday. Aksi beli investor asing di pasar reguler menjadi salah satu pendorong utama penguatan tersebut.

Analis teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menjelaskan IHSG saat ini masih berada dalam struktur penguatan lanjutan.

Dengan formasi itu, IHSG berpotensi menuju area 9.030 sampai 9.077, selama mampu bertahan di atas level support terdekat.

“Saat ini posisi IHSG diperkirakan sedang berada pada bagian dari wave (v) dari wave [iii], sehingga dapat dicermati area penguatan pada rentang 9,030 sampai 9,077,” ujar Herditya dalam analisa hariannya.

Meski demikian, pelaku pasar tetap perlu mencermati potensi koreksi jangka pendek. Koreksi teknikal diperkirakan dapat menguji rentang 8.843 hingga 8.904.

Adapun level support IHSG berada di 8.867 dan 8.806, sementara resistance terdekat terpantau di 8.996 dan 9.030.

Baca Juga: Naik! Ini Harga Emas Hari Ini di Pegadaian Sabtu (10/1) Produk UBS, GALERI 24

IHSG ditutup di zona merah setelah sentuh rekor

IHSG pada perdagangan Senin (12/1/2026) ditutup melemah 0,58% atau turun 52,03 poin ke level 8.884,72.

Padahal, IHSG sempat dibuka menguat dan mencatat rekor tertinggi sepanjang masa di level 9.000,97.

Berdasarkan data BEI, pelemahan IHSG terjadi menjelang penutupan perdagangan. 

Pada pukul 14.39 WIB, IHSG sempat menyentuh titik terendah harian di 8.715,41, turun sekitar 250 poin dari pembukaan.

Mayoritas saham yang diperdagangkan mengalami pelemahan dengan 279 saham turun, 435 saham naik, dan 97 saham stagnan.

Total nilai transaksi mencapai Rp 40,10 triliun dengan volume 74,41 miliar saham dalam 5,07 juta kali transaksi.

Dari 11 sektor yang diperdagangkan di BEI, enam sektor mengalami penurunan. Sektor infrastruktur melemah paling dalam, yakni 2,37%.

Tonton: IHSG Turun Tipis Hari Ini, 10 Saham LQ45 dengan PER Terendah & Tertinggi 12 Januari 2026.

Sektor teknologi turun 1,68%, energi melemah 1,39%, keuangan turun 1,04%, barang konsumer non-primer turun 0,58%, dan kesehatan melemah 0,35%.

Artikel ini sudah tayang di Kompas.com berjudul "Ungguli Indeks Negara ASEAN, IHSG Diprediksi Tembus 9.800 Tahun Ini"

Selanjutnya: Bulog Mulai Tawarkan Beras untuk Ekspor

Menarik Dibaca: Promo Genki Sushi B1G1 Gratis Chicken Curry Bowl, Berlaku 7 Hari Saja

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

×