kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.008,28   13,06   1.31%
  • EMAS981.000 0,41%
  • RD.SAHAM -0.07%
  • RD.CAMPURAN 0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.07%

Tingkat Kredit Macet Paylater Cukup Tinggi, Penyelenggara Perlu Waspada


Kamis, 29 September 2022 / 15:16 WIB
Tingkat Kredit Macet Paylater Cukup Tinggi, Penyelenggara Perlu Waspada
ILUSTRASI. PT Pefindo Biro Kredit (IdScore) mencatat rasio NPL untuk layanan paylater tergolong tinggi di level 6,49% per Juli 2022.

Reporter: Adrianus Octaviano | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Berkembangnya bisnis Buy Now Pay Later (BNPL) di Indonesia cukup pesat. Sebab, layanan tersebut banyak diminati masyarakat mengingat kemudahannya untuk memperoleh pinjaman.

Sayangnya, penggunaan layanan paylater ini rasanya kurang memiliki mitigasi risiko yang mumpuni. 

PT Pefindo Biro Kredit (IdScore) mencatat rasio kredit macet atau yang akrab disebut NPL untuk layanan BNPL ini tergolong tinggi di level 6,49% per Juli 2022.

“NPL dari paylater ini paling tinggi dibandingkan dengan produk-produk lainnya seperti kartu kredit dan Kredit Tanpa Agunan (KTA),” ujar Diektur Utama IdScore Yohanes Arts Abimanyu.

Baca Juga: Kenaikan Harga BBM Bisa Mengganggu Bisnis Paylater

Secara tren, NPL untuk layanan BNPL sudah berada di atas 6% sejak Maret 2022. Adapun posisi tertinggi terjadi di Juni 2022 yang nilainya mencapai 7%.

Sebagai informasi, pada periode yang sama, IdScore mencatat total pinjaman kredit yang disalurkan oleh layanan BNPL ini mencapai Rp 3,1 triliun dengan total jumlah debiturnya mencapai 9,44 juta.

Abimanyu menjelaskan NPL yang tinggi ini merupakan dampak dari persyaratan yang mudah dalam pengajuannya ditambah dengan jumlah pinjaman layanan paylater yang tergolong kecil.

“Kecil-kecil nilainya misal cuma 15.000, 20.000 dan kadang-kadang orang jadi malas bayar, kabur saja,” imbuh Abimanyu.

Oleh karenanya, ia mengingatkan agar penyelenggara layanan paylater ini tidak hanya memikirkan untuk mengejar banyaknya pinjaman yang disalurkan. Menurutnya, mitigasi risiko dari layanan BNPL juga harus menjadi fokus.

Baca Juga: Inilah Cara Daftar DANA Paylater beserta Syarat bagi Pengguna

Abimanyu menyadari bahwa saat ini ada kondisi data yang minim terkait profil risiko kredit pengguna paylater. Sebab, kebanyakan pengguna layanan BNPL merupakan orang-orang yang tidak bisa terlayani oleh lembaga jasa keuangan lainnya seperti perbankan.

“Mereka harus memastikan bahwa misalnya mereka pakai alternatif credit scoring, harus jelas dan tepat untuk menganalisis kreditnya,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Terpopuler
Kontan Academy
Supply Chain Management on Practical Inventory Management (SCMPIM) Supply Chain Management Principles (SCMP)

×