Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Fenomena warung Madura yang buka 24 jam kini menjadi pemandangan umum di berbagai kota besar di Indonesia.
Keberadaannya bukan sekadar memenuhi kebutuhan konsumsi harian, tetapi juga berperan sebagai simpul penting ekonomi mikro, terutama bagi masyarakat urban, pekerja informal, dan perantau asal Madura.
Pengamat ekonomi sekaligus Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman, menilai fenomena ini sebagai bentuk adaptasi pelaku usaha kecil terhadap perubahan pasar ritel.
"Fenomena Warung Madura 24 jam mencerminkan adaptasi UMKM terhadap dinamika pasar ritel yang semakin kompetitif, terutama di tengah tekanan daya beli," kata Rizal saat dihubungi, Rabu (1/4/2026).
Secara ekonomi, warung Madura mengisi ceruk pasar yang belum sepenuhnya dijangkau ritel modern.
Mereka menawarkan kebutuhan konsumsi harian dengan keunggulan pada kedekatan lokasi, fleksibilitas waktu, dan harga yang terjangkau.
Karakteristik tersebut membuat warung Madura tetap relevan, khususnya bagi masyarakat menengah ke bawah dan pekerja informal.
Transaksi kecil, kebutuhan mendesak, hingga pembelian spontan dapat terpenuhi dengan mudah.
Baca Juga: Catat Harga Emas Hari Ini di Pegadaian Selasa (7/4) Produk UBS, GALERI 24
Dengan demikian, warung Madura tidak hanya bersaing, tetapi juga melengkapi struktur pasar ritel yang cenderung tersegmentasi.
Dari sisi strategi bisnis, daya tahan warung Madura bertumpu pada efisiensi biaya operasional, jam buka 24 jam, serta kedekatan sosial dengan pelanggan.
“Mereka mampu menekan biaya operasional karena skala usaha kecil, tenaga kerja terbatas yang sering berbasis keluarga, dan rantai pasok yang fleksibel," ujar Rizal.
Namun, keberhasilan ini sekaligus menyoroti keterbatasan penetrasi ritel modern, terutama dalam menjangkau konsumen berdaya beli rendah dan kebutuhan berskala mikro.
Ke depan, tantangan utama warung Madura meliputi persaingan antar-warung, margin keuntungan yang tipis, serta kebutuhan inovasi, seperti pengelolaan stok yang lebih baik, digitalisasi sederhana, dan diferensiasi produk agar tetap bertahan dalam jangka panjang.
Sehari-hari di Warung Madura
Di kawasan Depok Baru, Jawa Barat, sebuah warung Madura berukuran sekitar 3×4 meter tetap ramai meski memiliki ruang yang terbatas.
Sadad (27), perantau asal Sampang, Madura, mulai merantau ke Jakarta pada usia 22 tahun.
Ia mengawali pekerjaannya dari posisi paling dasar, mulai dari menata barang, menjaga kasir, hingga melayani pelanggan.
"Setelah tiga tahun, saya diajak saudara untuk bantu di sini di Depok Baru," kata Sadad saat ditemui di warungnya.
Keterbatasan ruang membuat penataan barang harus dilakukan secara efisien.
Rak bagian depan diisi rokok, minuman, dan makanan ringan.
Dinding dimanfaatkan untuk menggantung sachet kopi, susu, dan bumbu, sementara bagian bawah digunakan untuk menyimpan stok dalam kardus.
Warung ini menyediakan berbagai kebutuhan harian, mulai dari mie instan, kopi, rokok, air mineral, sabun, sampo, hingga jajanan kecil.
“Karena ruang terbatas, stok tidak bisa banyak. Jadi harus restok 2–3 kali seminggu,” ujar Sadad.
Pengalaman berjaga pada malam hari juga memiliki dinamika tersendiri.
Pelanggan tetap datang, mulai dari anak kos, pengemudi ojek online, hingga sopir yang mencari kebutuhan di tengah malam.
Baca Juga: Kurs Transaksi BI Hari Ini Senin (6/4): Cek Nilai Dolar AS hingga Singapura
“Yang penting jangan sampai tutup. Walau hanya 4–6 orang, itu cukup untuk membuat warung tetap jalan," kata Sadad.
Warung ini juga menyediakan kasbon terbatas bagi pelanggan tetap, seperti anak kos atau warga sekitar, dengan nilai sekitar Rp 500.000 hingga Rp1 juta per minggu, yang dicatat secara manual.
Dari sisi penghasilan, sistem yang diterapkan berbasis gaji bulanan.
Sadad memperoleh sekitar Rp2–2,5 juta, sementara rekannya, Arul (21), menerima upah yang lebih rendah.
Mereka juga mendapatkan fasilitas makan dan tempat tinggal, sehingga masih dapat mengirim uang ke kampung halaman.
Operasional warung berlangsung 24 jam dengan sistem shift.
Pembagian waktu kerja meliputi pukul 08.00–16.00, 16.00–00.00, dan 00.00–08.00.
“Kadang kami kerja lebih lama dari itu. Tidur seadanya di belakang rak," ujar Arul.
Warung Madura sistem “bos”
Di wilayah Pasar Minggu, Jakarta Selatan, terdapat model pengelolaan warung Madura dengan sistem “bos”.
Basid (29) berperan sebagai pemilik yang menjalankan operasional harian, sementara pemilik modal tidak berada di lokasi.
Modal awal disediakan oleh pemilik, meskipun Basid terkadang menambah stok barang yang cepat terjual.
Sistem pembagian keuntungan dilakukan setiap bulan setelah dikurangi biaya operasional.
Basid memperoleh penghasilan sekitar Rp 2–3 juta per bulan, ditambah gaji tetap.
Biaya sewa ruko sebesar Rp 2 juta per bulan, serta kebutuhan lain seperti listrik, ditanggung oleh pemilik.
Basid juga tinggal di dalam warung dengan ruang tidur sederhana.
Kasbon tetap diberlakukan secara terbatas untuk menjaga risiko usaha.
Model ini berbeda dengan warung Madura lainnya yang bisa dimiliki secara pribadi atau berbasis keluarga.
Sistem “bos” memberikan peluang bagi perantau untuk terlibat dalam usaha tanpa modal besar, meskipun dengan porsi keuntungan yang lebih kecil.
"Tantangan terbesar adalah menjaga kepercayaan. Karena saya pegang uang dan barang, harus benar-benar jujur," kata Basid.
Bagi banyak perantau, sistem ini menjadi tahap awal untuk belajar bisnis sebelum akhirnya membuka usaha sendiri.
Strategi bertahan hidup dan solidaritas sosial
Sosiolog Universitas Negeri Jakarta, Rakhmat Hidayat, menilai warung Madura 24 jam sebagai bentuk adaptasi sosial yang efektif terhadap tuntutan kehidupan perkotaan.
Menurut Rakhmat, keberadaan warung ini memungkinkan para perantau asal Madura untuk bertahan di tengah tingginya biaya hidup dan persaingan kerja di kota besar.
“Selain warung, mereka juga membuka usaha besi rongsokan, bubur kacang Madura, atau sate Madura," ujar Rakhmat.
Warung yang selalu buka memberikan solusi praktis bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan yang terjangkau dan mudah diakses, bahkan pada malam hingga dini hari.
Jaringan kekerabatan, baik keluarga maupun kerabat dekat, menjadi faktor kunci dalam pengelolaan usaha.
Pola ini membantu menekan biaya operasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja eksternal.
Tonton: Menimbang Bea Keluar Batubara di tengah Lonjakan Harga & Kebutuhan Penerimaan Negara
Namun demikian, Rakhmat menilai hubungan kerja berbasis keluarga memiliki dua sisi.
Kedekatan emosional dapat meningkatkan loyalitas dan fleksibilitas kerja, tetapi juga berpotensi menimbulkan konflik yang memengaruhi operasional dan profesionalisme.
Sistem kerja bergantian serta ruang istirahat sederhana menjadi bentuk adaptasi terhadap tuntutan operasional 24 jam, sekaligus menjaga kesehatan pekerja.
Dibandingkan dengan minimarket modern, warung Madura menawarkan pengalaman sosial yang berbeda.
Minimarket cenderung berorientasi pada efisiensi dan keuntungan, sedangkan warung Madura berbasis komunitas, mengedepankan keakraban, gotong royong, serta fleksibilitas, termasuk dalam sistem kasbon.
"Warung 24 jam juga menjadi ruang interaksi sosial, tempat berbagi cerita, memperkuat hubungan antar-pelanggan, dan menjaga identitas komunitas yang sulit ditemukan di minimarket modern," ujar Rakhmat.
(Lidia Pratama Febrian, Larissa Huda)
Sumber: https://megapolitan.kompas.com/read/2026/04/02/11320041/bukan-sekadar-24-jam-ini-rahasia-yang-bikin-warung-madura-sulit
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













