kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.003.000   87.000   2,98%
  • USD/IDR 16.734   -57,00   -0,34%
  • IDX 8.321   -659,67   -7,35%
  • KOMPAS100 1.149   -90,86   -7,33%
  • LQ45 813   -63,58   -7,26%
  • ISSI 305   -25,64   -7,75%
  • IDX30 418   -26,36   -5,93%
  • IDXHIDIV20 493   -25,93   -4,99%
  • IDX80 127   -10,53   -7,65%
  • IDXV30 138   -5,68   -3,95%
  • IDXQ30 134   -8,31   -5,83%

Nasib Investor Pemula Saat IHSG Anjlok: Ini 7 Langkah Selamatkan Modal!


Kamis, 29 Januari 2026 / 03:50 WIB
Nasib Investor Pemula Saat IHSG Anjlok: Ini 7 Langkah Selamatkan Modal!
ILUSTRASI. IHSG anjlok 7,71% hari ini akibat pembekuan MSCI. Investor pemula wajib tahu 7 langkah krusial agar tak rugi besar. (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)

Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Anjloknya pasar saham kerap menjadi ujian pertama sekaligus paling berat bagi investor pemula.

Grafik yang tiba-tiba memerah, indeks utama jatuh dalam hitungan hari, hingga banjir kabar negatif di media global sering kali mendorong satu reaksi yang sama: panik.

Padahal, bagi investor jangka panjang, fase penurunan justru merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari siklus pasar.

Pengalaman pasar global menunjukkan bahwa koreksi dan bahkan kejatuhan tajam bukanlah peristiwa langka.

Pada 2022, indeks S&P 500 di Amerika Serikat (AS) mencatat penurunan tahunan sekitar 19,4 persen, yang disebut sebagai penurunan tahunan terburuk sejak krisis keuangan global 2008.

Tekanan kala itu datang dari lonjakan inflasi, pengetatan agresif suku bunga bank sentral, serta ketidakpastian geopolitik.

Situasi serupa berulang di berbagai periode. Sell-off global bisa dipicu oleh satu peristiwa, lalu menjalar cepat karena sentimen.

Baca Juga: OJK Cabut Izin BPR Prima Master, Bagaimana Dana Nasabah?

Chief Investment Officer Sarmaya Partners, Wasif Latif, menggambarkan suasana tersebut dengan lugas.

“Hal itu ditambah dengan apa yang terjadi di Jepang dan berbagai hal lain yang menciptakan suasana ketidakpastian. Jadi semuanya bergabung untuk hari yang cukup signifikan bagi investor yang menghindari risiko,” ujar Latif, dikutip dari Reuters.

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG hari ini, Rabu (28/1/2026) pun mengalami penurunan.

IHSG turun 7,71 persen atau 692,47 poin ke level 8.287,76 per pukul 11.15 WIB. Sejak pembukaan, IHSG melemah di posisi 8.393,51. IHSG sempat berupaya bangkit dan menyentuh level tertinggi harian di 8.596,17, tapi penguatan tersebut tidak bertahan lama.

Tekanan jual kembali mendominasi sehingga IHSG anjlok lebih dalam dan menyentuh level terendah di 8.281,57.

Penyebab IHSG hari ini anjlok lantaran pengumuman MSCI yang membekukan sementara perubahan indeks untuk sekuritas Indonesia.

MSCI mengumumkan pembekuan sementara seluruh peningkatan Faktor Inklusi Asing atau Foreign Inclusion Factor (FIF) serta Jumlah Saham atau Number of Shares (NOS) untuk sekuritas Indonesia.

Bagi investor berpengalaman, volatilitas seperti ini bukanlah sinyal untuk keluar sepenuhnya dari pasar.

Namun bagi investor pemula, pertanyaannya lebih mendasar: apa yang seharusnya dilakukan agar tidak mengambil keputusan keliru?

1. Menyadari bahwa penurunan adalah bagian dari perjalanan investasi

Langkah pertama yang kerap ditekankan para pengelola investasi global adalah mengubah cara pandang terhadap penurunan pasar.

Saham bukan instrumen tanpa risiko, dan fluktuasi harga adalah konsekuensi dari potensi imbal hasil jangka panjang.

Vanguard, salah satu manajer aset terbesar dunia, berulang kali menekankan bahwa volatilitas jangka pendek tidak seharusnya menggagalkan rencana investasi jangka panjang.

Dalam materi edukasinya, Vanguard menyarankan investor untuk tetap berpegang pada tujuan awal.

Baca Juga: Wajib Tahu! Daftar Rekening MyBCA Menumpuk, Ini Cara Membersihkannya

Pendekatan ini menjadi penting terutama bagi investor pemula yang baru merasakan koreksi besar.

Ketika tujuan investasi sejak awal memang untuk jangka panjang, misalnya pensiun atau kebutuhan lima hingga sepuluh tahun ke depan, pergerakan harga harian atau mingguan seharusnya tidak menjadi dasar keputusan.

2. Menghindari keputusan emosional di tengah tekanan

Salah satu kesalahan paling umum saat pasar anjlok adalah menjual saham semata-mata karena takut kerugian akan semakin dalam.

Secara psikologis, investor cenderung ingin “mengamankan” sisa modal.

Namun, langkah ini justru sering mengunci kerugian.

BlackRock dalam berbagai analisis pasarnya menyoroti banyak investor individu kehilangan potensi imbal hasil karena keluar dari pasar pada saat yang salah, lalu masuk kembali ketika harga sudah pulih.

Konsep yang kerap diulang adalah time in the market, bukan timing the market.

Artinya, lamanya waktu berinvestasi jauh lebih menentukan hasil dibandingkan kemampuan menebak titik terendah atau tertinggi pasar.

3. Mengecek kembali kondisi pribadi, bukan hanya kondisi pasar

Saat pasar bergejolak, fokus investor pemula seharusnya tidak semata pada indeks saham, melainkan pada kondisi keuangan pribadi.

Pertanyaan kuncinya sederhana: apakah dana yang diinvestasikan benar-benar dana jangka panjang?

Jika ada kebutuhan likuid dalam waktu dekat, seperti biaya pendidikan atau pembelian rumah, maka eksposur terhadap saham memang perlu dikaji ulang.

Namun, bila dana darurat sudah aman dan kebutuhan jangka pendek tidak bergantung pada investasi saham, tekanan pasar seharusnya bisa dihadapi dengan lebih tenang.

Baca Juga: Intip Kurs Transaksi BI Hari Ini Rabu (28/1): Dolar AS Kini Sentuh Rp16.885,01

Investor yang terpaksa menjual saham saat harga jatuh umumnya bukan karena strategi yang salah, melainkan karena kebutuhan likuiditas yang mendesak.

4. Rebalancing: disiplin yang sering diabaikan

Di tengah penurunan pasar, istilah rebalancing kembali relevan. Rebalancing adalah proses mengembalikan proporsi aset ke komposisi awal sesuai profil risiko.

Misalnya, seorang investor memiliki portofolio dengan komposisi 60 persen saham dan 40 persen obligasi. Ketika pasar saham turun tajam, porsi saham bisa menyusut menjadi 50 persen.

Rebalancing berarti membeli saham untuk kembali ke target 60 persen. Pendekatan ini terdengar kontra-intuitif karena berarti membeli saat harga turun. Namun justru di sinilah disiplin investasi diuji.

Banyak manajer aset global memandang rebalancing sebagai cara sistematis untuk membeli aset saat valuasinya relatif lebih rendah, tanpa perlu menebak arah pasar.

5. Menambah investasi secara bertahap, bukan sekaligus

Bagi investor pemula yang masih memiliki dana segar, penurunan pasar sering kali memunculkan godaan untuk “all in”.

Namun, pendekatan yang lebih konservatif adalah menanamkan dana secara bertahap atau dollar-cost averaging (DCA).

Strategi ini memungkinkan investor membeli saham di berbagai level harga, sehingga mengurangi risiko masuk di titik yang kurang tepat.

Baca Juga: Meroket Naik Rp 52.000 Per Gram! Ini Harga Emas Antam Logam Mulia Hari Rabu (28/1)

6. Bidik peluang di balik ketakutan, dengan tetap selektif

Setiap kejatuhan pasar selalu melahirkan narasi peluang. Namun, peluang tersebut tidak berarti membeli apa pun yang harganya turun. Prinsip selektivitas tetap krusial.

Warren Buffett, investor legendaris yang kerap dikutip media internasional, terkenal dengan ungkapannya, “Be fearful when others are greedy, and be greedy when others are fearful" atau "Takutlah ketika orang lain serakah, dan serakahlah ketika orang lain takut.”

Namun Buffett juga menekankan pentingnya kualitas bisnis dan fundamental yang kuat.

Bagi investor pemula, prinsip ini sering diterjemahkan dengan memilih instrumen yang terdiversifikasi, seperti reksa dana indeks atau ETF pasar luas, ketimbang berspekulasi pada saham individual yang volatilitasnya tinggi.

7. Memahami bahwa penurunan sering dipicu sentimen, bukan hanya fundamental

Dalam banyak kasus, kejatuhan pasar bukan semata karena memburuknya kinerja perusahaan, melainkan karena sentimen global.

Amelie Derambure, Senior Multi-Asset Portfolio Manager di Amundi, menggambarkan dinamika tersebut.

“Yang kita lihat adalah aksi ambil untung sebagai tindakan pencegahan dan pengurangan risiko,” kata Derambure.

Pernyataan ini menunjukkan, pelaku pasar besar sering kali mengurangi risiko sebagai langkah antisipasi, bukan karena perubahan fundamental yang drastis.

Bagi investor pemula, memahami konteks ini penting agar tidak serta-merta menyimpulkan bahwa seluruh prospek investasi telah berubah.

Kesalahan yang perlu dihindari investor pemula

Di tengah pasar yang anjlok, ada beberapa jebakan klasik.

Pertama, mengalihkan seluruh portofolio ke kas dan berhenti berinvestasi sama sekali.

Kedua, mengikuti rumor atau rekomendasi singkat tanpa analisis.

Ketiga, menempatkan dana yang seharusnya menjadi dana darurat ke instrumen berisiko tinggi.

Kesalahan-kesalahan ini sering kali berakar pada kurangnya rencana investasi yang jelas sejak awal.

Tonton: Armada Tempur AS Tiba di Timur Tengah, Trump Mengaku Ditelepon Iran Berkali-kali

Menjadikan volatilitas sebagai proses belajar

Bagi investor pemula, pasar saham yang anjlok sering kali menjadi pengalaman yang tidak nyaman.

Namun justru pada fase inilah pembelajaran terbesar terjadi. Investor mulai memahami arti risiko, disiplin, dan pentingnya perencanaan.

Sejarah pasar menunjukkan bahwa pemulihan sering datang setelah periode yang paling menegangkan.

Tidak ada jaminan kapan pemulihan itu terjadi, tetapi keputusan yang diambil saat pasar jatuh akan sangat menentukan hasil jangka panjang.

Alih-alih bereaksi terhadap ketakutan, investor pemula yang mampu bertahan, mengevaluasi strategi, dan tetap rasional memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh bersama pasar ketika kondisi kembali membaik.

Artikel ini sudah tayang di Kompas.com berjudul "IHSG Anjlok, Ini yang Perlu Dilakukan Investor Pemula agar Tak Salah Langkah"

Selanjutnya: Kalsel Diserbu Hujan Petir: Cek Prakiraan Cuaca Banjarmasin & Lainnya Hari Ini

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

×