kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Pasar Minyak Bergejolak, AS Bersiap Kembali Kawal Kapal di Selat Hormuz


Jumat, 08 Mei 2026 / 03:43 WIB
Pasar Minyak Bergejolak, AS Bersiap Kembali Kawal Kapal di Selat Hormuz
ILUSTRASI. Harga minyak bergerak naik turun dalam perdagangan yang volatil pada Kamis (7/5/2026) sebelum akhirnya ditutup melemah. (REUTERS/Pavel Mikheyev)

Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Harga minyak bergerak naik turun dalam perdagangan yang volatil pada Kamis (7/5/2026) sebelum akhirnya ditutup melemah, setelah muncul laporan bahwa Arab Saudi dan Kuwait mencabut pembatasan penggunaan wilayah udara dan pangkalan militer mereka oleh Amerika Serikat.

Langkah ini memungkinkan AS kembali menjalankan operasi pengawalan kapal dagang di Selat Hormuz paling cepat pekan ini.

Data Reuters menunjukkan, harga minyak mentah Brent ditutup turun 1,2% atau US$ 1,21 menjadi US$ 100,06 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 0,28% atau 27 sen menjadi US$ 94,81 per barel.

Tabel Pergerakan Harga Minyak Dunia

Jenis Minyak Harga Penutupan Perubahan
Brent Crude US$100,06/barel -1,2%
WTI Crude US$94,81/barel -0,28%

Sebelumnya, kedua acuan harga minyak sempat anjlok hingga US$ 5 per barel di tengah optimisme bahwa Washington dan Teheran tengah bergerak menuju kesepakatan sementara untuk menghentikan konflik mereka.

Namun setelah penutupan perdagangan, harga minyak kembali melonjak. Brent naik lebih dari US$ 1, sementara WTI melesat sekitar US$ 2 setelah kantor berita Iran, Fars, melaporkan adanya suara yang menyerupai ledakan di dekat Kota Bandar Abbas, Iran.

Baca Juga: Harga Emas Melesat: Potensi Tembus US$ 5.000 jika Perang Berakhir?

Wall Street Journal melaporkan bahwa Arab Saudi dan Kuwait telah mencabut pembatasan terhadap penggunaan wilayah udara dan pangkalan militer oleh AS. Pemerintahan Presiden Donald Trump disebut tengah berupaya mengaktifkan kembali “Project Freedom”, yaitu operasi pengawalan kapal melalui jalur vital Selat Hormuz mulai pekan ini.

Sumber dan pejabat terkait menyebut AS dan Iran semakin dekat menuju kesepakatan sementara untuk menghentikan perang. Draf kesepakatan itu bertujuan menghentikan pertempuran, namun masih menyisakan sejumlah isu paling sensitif dan lebih berfokus pada nota kesepahaman jangka pendek dibanding perjanjian damai komprehensif.

Analis SEB Research, Ole Hvalbye, mengatakan bahwa jika kesepakatan benar-benar tercapai, harga Brent kemungkinan akan cepat kembali ke kisaran US$ 80-US$ 90 per barel. Namun jika perundingan gagal atau Presiden Trump kembali memilih opsi serangan militer, harga minyak dapat langsung melonjak di atas US$ 120 per barel.

Ia menambahkan bahwa meskipun nota kesepahaman dapat menurunkan premi risiko di pasar berjangka, dampaknya terhadap harga minyak fisik tidak akan langsung terasa. Pasar diperkirakan membutuhkan waktu beberapa minggu hingga beberapa bulan untuk kembali normal setelah kesepakatan tercapai.

Dari sisi pasokan, Iran dilaporkan telah memangkas produksi minyak sebesar 400 ribu barel per hari dan kemungkinan akan mengurangi produksi lebih lanjut karena kapasitas penyimpanan yang mulai penuh. Hal itu disampaikan Menteri Energi AS Chris Wright dalam wawancara dengan Fox News.

Di sisi lain, sebuah kapal tanker produk minyak milik China dilaporkan diserang di dekat Selat Hormuz pada Senin lalu. Media China, Caixin, menyebut insiden tersebut menjadi pertama kalinya kapal minyak China diserang di kawasan tersebut.

Awal pekan ini, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mendesak China meningkatkan upaya diplomatik untuk membujuk Iran membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran internasional. Ia juga mengatakan Presiden Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping akan membahas isu tersebut dalam pertemuan mereka pekan depan.

Dampak perang Iran juga menjadi topik utama dalam pertemuan ASEAN pada Kamis. Negara-negara Asia Tenggara kembali menyerukan persatuan menghadapi tantangan serius bagi ekonomi mereka yang sangat bergantung pada impor energi.

Tonton: KPK Buka Suara: Ini Alasan LHKPN Presiden Prabowo Belum Terlihat Publik

Menurut draf pernyataan yang dilihat Reuters, para pemimpin ASEAN pada Jumat akan menyerukan negosiasi dengan itikad baik antara AS dan Iran serta penghentian permusuhan.

Faktor Penggerak Harga Minyak

Faktor Dampak terhadap Harga Minyak
Harapan kesepakatan AS-Iran Menekan harga minyak
Ketegangan di Selat Hormuz Mendorong volatilitas
Operasi pengawalan kapal AS Menenangkan pasar sementara
Dugaan ledakan di Bandar Abbas Memicu kenaikan harga
Pemangkasan produksi Iran Menopang harga minyak
Risiko gangguan pasokan global Menjaga premi risiko tetap tinggi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

×