Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Harga beras nasional tercatat relatif stabil sepanjang April 2026. Berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan, harga beras medium secara nasional tercatat sebesar Rp 13.716 per kilogram pada 30 April 2026.
Harga tersebut naik tipis dibandingkan posisi 31 Maret 2026 yang sebesar Rp 13.711 per kilogram, atau hanya naik 0,04% dalam sebulan.
Sementara itu, harga beras premium pada akhir April 2026 tercatat sebesar Rp 15.383 per kilogram, naik dari posisi akhir Maret sebesar Rp 15.355 per kilogram, atau meningkat 0,18%.
Data SP2KP Kemendag menggunakan indikator Harga Nasional Tertimbang (HNT) yang bersumber dari 514 kabupaten/kota dengan bobot konsumsi mengacu pada Survei Biaya Hidup (SBH) 2022 Badan Pusat Statistik (BPS).
Stabilnya harga beras berpotensi membantu menjaga daya beli masyarakat, mengingat beras merupakan komoditas pangan utama dengan porsi konsumsi terbesar di rumah tangga.
Selisih harga beras medium dan premium masih lebar
Meski pergerakan harga relatif datar, selisih harga beras medium dan premium masih cukup lebar. Per 30 April 2026, selisih harga kedua jenis beras tersebut mencapai sekitar Rp 1.667 per kilogram.
Perbedaan harga ini berpotensi memengaruhi pilihan konsumsi masyarakat, terutama di tengah fluktuasi harga komoditas pangan lain seperti cabai dan minyak goreng.
Baca Juga: Harga Emas Antam Turun Tipis Rp 1.000/Gram Hari Ini, Simak Rinciannnya!
Tabel 1. Tren harga beras nasional (HNT SP2KP Kemendag)
| Komoditas | 31 Maret 2026 | 30 April 2026 | Perubahan (MoM) |
|---|---|---|---|
| Beras medium | Rp 13.711/kg | Rp 13.716/kg | +0,04% |
| Beras premium | Rp 15.355/kg | Rp 15.383/kg | +0,18% |
Simulasi belanja beras rumah tangga per bulan
Dengan harga beras medium Rp 13.716 per kilogram dan beras premium Rp 15.383 per kilogram, berikut simulasi pengeluaran rumah tangga untuk konsumsi beras bulanan.
Tabel 2. Simulasi pengeluaran rumah tangga untuk beras (April 2026)
| Konsumsi beras per bulan | Beras medium (Rp 13.716/kg) | Beras premium (Rp 15.383/kg) | Selisih biaya |
|---|---|---|---|
| 10 kg | Rp 137.160 | Rp 153.830 | Rp 16.670 |
| 20 kg | Rp 274.320 | Rp 307.660 | Rp 33.340 |
| 30 kg | Rp 411.480 | Rp 461.490 | Rp 50.010 |
Selisih dihitung dari perbedaan harga premium dan medium sebesar Rp 1.667/kg.
Berdasarkan simulasi tersebut, rumah tangga dengan konsumsi 20 kg per bulan akan mengeluarkan dana sekitar Rp 274.320 jika membeli beras medium. Sementara jika membeli beras premium, pengeluaran meningkat menjadi sekitar Rp 307.660 per bulan.
Artinya, perbedaan pilihan jenis beras dapat memengaruhi pengeluaran rumah tangga sekitar Rp 33.340 per bulan untuk konsumsi 20 kg.
Baca Juga: Simak Harga Emas Hari Ini di Pegadaian Senin (4/5) Produk UBS, GALERI 24
Komoditas lain bergerak fluktuatif, cabai dan minyak goreng naik
Meski harga beras cenderung stabil, pergerakan harga sejumlah komoditas pangan lain justru cukup berfluktuasi pada April 2026.
SP2KP Kemendag mencatat harga cabai merah keriting naik dari Rp 37.112 per kilogram pada akhir Maret menjadi Rp 42.226 per kilogram pada akhir April atau meningkat 13,78%. Cabai merah besar juga naik dari Rp 38.966 per kilogram menjadi Rp 44.348 per kilogram, atau naik 13,81%.
Sementara itu, minyak goreng sawit curah tercatat naik dari Rp 19.063 per liter menjadi Rp 19.522 per liter, atau naik 2,41%. Minyak goreng kemasan premium juga naik dari Rp 21.372 per liter menjadi Rp 21.929 per liter, atau meningkat 2,61%.
Di sisi lain, beberapa komoditas protein justru mengalami penurunan. Harga daging ayam ras turun dari Rp 40.787 per kilogram menjadi Rp 37.309 per kilogram atau turun 8,53%, sedangkan harga telur ayam ras turun dari Rp 30.825 per kilogram menjadi Rp 28.806 per kilogram atau turun 6,55%.
Tonton: RI Buka Impor 1.000 Ton Beras AS! Ganggu Swasembada Pangan?
Pergerakan harga pangan yang beragam ini menunjukkan bahwa stabilitas harga beras dapat menjadi salah satu faktor penahan tekanan biaya hidup masyarakat, meski fluktuasi harga komoditas lain masih berpotensi mendorong inflasi pangan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













