Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan pada awal pekan ini.
Rupiah berpotensi melemah hingga kisaran Rp 16.960–Rp 17.020 per dollar Amerika Serikat pada perdagangan Senin (16/3/2026).
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pergerakan rupiah akan cenderung fluktuatif. Penutupan perdagangan diperkirakan tetap berada pada level lebih lemah.
“Untuk perdagangan senin depan, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 16.960- Rp17.020. Untuk range satu minggu Rp 16.850-Rp 17.150,” ujar Ibrahim, Sabtu (14/3/2026).
Rupiah sebelumnya sudah melemah pada perdagangan Jumat (13/3/2026).
Mata uang Garuda ditutup turun 67 poin ke posisi Rp 16.960 per dollar AS. Nilai tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 16.893 per dollar AS.
Ibrahim menilai tekanan terhadap rupiah dipicu lonjakan harga minyak dunia.
Kondisi ini muncul setelah pemimpin baru Iran Mojtaba Khamenei menyatakan Selat Hormuz tetap ditutup.
Selat Hormuz menjadi jalur penting bagi perdagangan energi global. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia melewati jalur tersebut.
Baca Juga: Investor BBCA Siap Cuan! Dividen Rp 281/Saham Cair 8 April, Simak Tata Caranya
Penutupan jalur tersebut memicu gangguan pasokan besar di pasar energi global.
Pelaku pasar khawatir lonjakan harga minyak dapat memicu tekanan inflasi di berbagai negara.
Harga minyak mentah Brent berjangka sebagai acuan global terakhir berada di kisaran 100 dollar AS per barrel.
“Bank sentral, seperti Federal Reserve (The Fed), mungkin terpaksa mempertimbangkan kembali pemotongan suku bunga jangka pendek jika inflasi meningkat. Biaya pinjaman yang lebih tinggi dapat menarik lebih banyak investasi asing, sehingga meningkatkan daya tarik dollar AS,” paparnya.
Investor juga mencermati data inflasi Amerika Serikat pekan ini.
Data indeks harga konsumen menunjukkan inflasi relatif stabil pada Februari dibandingkan bulan sebelumnya.
Data tersebut belum mencerminkan dampak kenaikan harga minyak global.
Pasar juga menyoroti beban pembayaran bunga utang pemerintah. Beban tersebut dinilai membatasi ruang fiskal untuk mendorong ekonomi melalui belanja negara.
Estimasi menunjukkan pembayaran bunga utang mencapai Rp 99,8 triliun hingga Februari 2026.
Baca Juga: Bursa Tutup Total 5 Hari Kerja: Cek Jadwal Libur BEI Maret 2026
Nilai itu setara 27,8 persen dari total pendapatan negara sebesar Rp 358 triliun.
Nilai tersebut juga setara 28,8 persen dari realisasi belanja pemerintah pusat sebesar Rp 346,1 triliun.
Risiko kenaikan beban bunga utang juga meningkat seiring kebijakan tukar guling utang antara Bank Indonesia dan pemerintah.
Ketegangan geopolitik global juga berpotensi mendorong kenaikan imbal hasil surat berharga negara atau SBN.
Data Kementerian Keuangan per 10 Maret 2026 menunjukkan yield SBN tenor 10 tahun berada di level 6,52 persen.
Yield US Treasury tenor 10 tahun tercatat pada level 4,09 persen.
Yield SBN sejak awal tahun naik 55 basis poin secara kumulatif.
Kenaikan yield tersebut berpotensi meningkatkan biaya bunga utang dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
Tonton: Menkeu Purbaya Buka Peluang Defisit APBN Tembus di Atas 3% dari PDB, Ini Syaratnya
Ibrahim menilai pemerintah tetap optimistis dalam mengelola utang negara.
Pengelolaan portofolio utang dan penerbitan tahunan dilakukan secara hati-hati untuk menjaga risiko tetap terkendali.
“Contoh konkrit, penerimaan pajak yang mampu tumbuh hingga 30,4 persen pada Februari 2026 akan berdampak langsung pada perbaikan rasio pembayaran bunga utang maupun DSR,” tukasnya.
Sumber: https://money.kompas.com/read/2026/03/15/073000826/rupiah-diperkirakan-masih-tertekan-berpotensi-melemah-ke-rp-17.020-per-dollar?page=all#page1
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













