kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.844.000   -183.000   -6,05%
  • USD/IDR 16.775   -30,00   -0,18%
  • IDX 8.123   199,87   2,52%
  • KOMPAS100 1.137   29,35   2,65%
  • LQ45 824   17,48   2,17%
  • ISSI 289   10,45   3,75%
  • IDX30 430   9,01   2,14%
  • IDXHIDIV20 515   9,13   1,81%
  • IDX80 127   3,21   2,60%
  • IDXV30 141   5,28   3,90%
  • IDXQ30 139   1,96   1,43%

Saran Praktisi untuk Investor Pemula: Hindari Jebakan Untung Instan di Pasar Saham!


Rabu, 04 Februari 2026 / 06:33 WIB
Diperbarui Rabu, 04 Februari 2026 / 06:37 WIB
Saran Praktisi untuk Investor Pemula: Hindari Jebakan Untung Instan di Pasar Saham!
ILUSTRASI. Minimnya literasi finansial jadi ancaman serius. Praktisi saham Emir Parengkuan beberkan cara hindari kerugian. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)

Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Akses masyarakat ke pasar saham kini semakin terbuka seiring perkembangan teknologi digital. Namun, di balik kemudahan tersebut, investor pemula dihadapkan pada tantangan besar, terutama minimnya pemahaman risiko dan psikologi dalam berinvestasi.

Praktisi sekaligus edukator trading saham, Emir Parengkuan, menilai literasi pasar modal menjadi fondasi penting agar masyarakat tidak terjebak pada spekulasi semata.

“Banyak orang masuk pasar saham hanya karena ikut-ikutan tren, padahal tanpa pemahaman yang benar, risikonya justru sangat besar bagi keuangan jangka panjang,” kata Emir dalam rilis yang diterima Kompas.com, Selasa (3/2/2026).

Menurut Emir, investasi di pasar saham bukan sekadar menebak arah harga, melainkan proses analisis yang melibatkan banyak faktor, mulai dari laporan keuangan emiten, sentimen pasar, hingga kondisi makroekonomi.

“Investor harus mengerti cara membaca pergerakan pasar dan memahami aliran modal, supaya tidak terjebak dalam pengambilan keputusan yang emosional,” ujar Emir.

Ia menekankan, dinamika bursa sangat dipengaruhi arus dana dan psikologi kolektif pelaku pasar. Karena itu, membangun pola pikir rasional dan terstruktur menjadi kunci agar investor tidak mudah terombang-ambing oleh euforia sesaat.

Baca Juga: Emas Digital Gagal Bayar di China: Investor RI Wajib Waspada Risiko Ini!

Tips bagi Investor Pemula

Emir juga membagikan sejumlah pandangannya bagi masyarakat yang baru mulai berinvestasi.

Ia mencontohkan, inflasi dapat menggerus daya beli dari waktu ke waktu.

“Kalau inflasi lima persen, hari ini bisa beli 100 mangga, tahun depan mungkin tinggal 95. Artinya, uang harus bekerja agar tidak kalah dari inflasi,” ujar Emir.

Menurut dia, emas dengan imbal hasil rata-rata sekitar 5–6 persen kerap dianggap sebagai safe haven. Sementara itu, imbal hasil Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam jangka panjang berada di kisaran rata-rata 12 persen per tahun, serupa dengan saham-saham berkapitalisasi besar atau blue chip.

“Menurut saya, saham itu aset yang wajib dimiliki. Sebaiknya mulai sekarang, karena pengalaman di pasar juga sangat menentukan,” kata Emir.

Pentingnya Safety Net sebelum Berinvestasi

Emir mengingatkan agar investor pemula memiliki safety net atau cadangan keuangan sebelum terjun lebih dalam ke pasar saham.

“Kalau punya safety net, gagal 10 kali pun masih bisa hidup. Tapi kalau tidak punya, jatuh sekali saja bisa langsung pincang,” ucapnya.

Karena itu, ia menyarankan agar sebagian aset ditempatkan pada instrumen yang relatif lebih aman.

“Real estate dan emas itu hampir mendekati nol risiko. Reksa dana rata-rata bisa 7–8 persen, setidaknya harus bisa mengalahkan inflasi. Deposito menurut saya bukan pilihan utama, karena bunganya sering tidak menutup laju inflasi,” kata Emir.

Baca Juga: Panduan dan Syarat Buka RDN BCA untuk Rekening Saham Cuma Modal HP

Menyesuaikan Gaya Trading dengan Waktu

Selain soal instrumen, Emir juga menekankan pentingnya menyesuaikan gaya berinvestasi dengan ketersediaan waktu masing-masing individu.

“Kalau tidak punya banyak waktu, saya sarankan ubah gaya ke swing trading berbasis fundamental, yang konsepnya mirip dengan investing,” ujar Emir.

Namun, bagi mereka yang memiliki waktu dan fokus lebih, ia menilai strategi middle trading dapat menjadi pilihan.

“Yang paling penting, apa pun strateginya, perhatikan juga risikonya,” kata Emir.

Berbagi Edukasi Lewat Ruang Digital

Bagi yang ingin mengetahui lebih banyak soal saham, Emir mengaku aktif membagikan edukasi pasar modal melalui berbagai kanal media sosial.

Ia juga kerap berkolaborasi dengan sejumlah figur dan kreator konten saham, seperti David Noah, Hengky Adinata, dan Michael Yeoh.

Menurut Emir, kehadiran edukasi di ruang digital penting agar masyarakat awam bisa lebih mudah memahami konsep-konsep pasar modal yang selama ini terkesan rumit.

“Kalau masih bingung, silakan belajar dulu. Sekarang akses edukasi sudah terbuka lebar, tinggal bagaimana kita memanfaatkannya,” ucapnya.

Selain itu, ia membangun CAK Investment Club, untuk menyederhanakan berbagai konsep teknis trading dan investasi agar mudah dipahami investor ritel.

Ia menegaskan, dunia saham tidak menawarkan jalan pintas untuk meraih keuntungan.

Tonton: Pemerintah Bakal Libatkan Swasta Untuk Proyek Gengtengisasi

“Dunia saham tidak menyediakan jalan pintas, jadi jangan masuk saham dengan tangan kosong. Edukasi yang realistis adalah kunci agar investor ritel punya daya tahan dan kemampuan analisis sendiri menghadapi pasar yang terus berubah,” kata Emir.

Ia menambahkan, tujuan utama edukasi yang ia dorong bukan sekadar mengejar profit, melainkan membentuk pola pikir trading yang lebih disiplin dan berbasis data.

“Penting bagi setiap individu untuk memahami dinamika pasar sebelum menempatkan modal, supaya keputusan yang diambil benar-benar punya dasar yang kuat,” tegasnya.

Artikel ini sudah tayang di Kompas.com berjudul "Praktisi Saham Ingatkan Investor Pemula Tak Tergoda Untung Instan"

Selanjutnya: Layanan Kereta Premium KAI Semakin Diminati

Menarik Dibaca: Akhiri Masa Lajang, Lakukan 5 Hal Ini untuk Menarik Pasangan Ideal Anda

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

×