kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.085.000   40.000   1,31%
  • USD/IDR 16.809   26,00   0,15%
  • IDX 8.235   0,22   0,00%
  • KOMPAS100 1.156   -1,44   -0,12%
  • LQ45 834   -3,53   -0,42%
  • ISSI 293   0,28   0,09%
  • IDX30 440   -3,60   -0,81%
  • IDXHIDIV20 527   -6,48   -1,22%
  • IDX80 129   -0,27   -0,21%
  • IDXV30 143   -1,25   -0,87%
  • IDXQ30 141   -1,73   -1,21%

Investor Ritel Wajib Tahu: Ini Risiko Terbesar Perang Iran-Israel ke IHSG


Senin, 02 Maret 2026 / 03:19 WIB
Investor Ritel Wajib Tahu: Ini Risiko Terbesar Perang Iran-Israel ke IHSG

Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Perang Iran-Israel yang menyeret Amerika Serikat (AS) ke dalam pusaran konflik berpotensi mengguncang pasar keuangan global, termasuk Indonesia.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai rawan terkoreksi dalam jangka pendek.

Di tengah ketidakpastian tersebut, investor ritel dihadapkan pada satu pertanyaan krusial: bertahan, keluar, atau justru mencari peluang?

Pengamat pasar modal, Reydi Octa, menilai konflik Iran-AS berisiko memicu tekanan geopolitik lanjutan terhadap pasar global dan domestik.

Ketegangan tersebut telah mendorong harga minyak dunia naik tajam akibat kekhawatiran terganggunya pasokan energi dari Timur Tengah.

Konflik Iran-AS bisa buat pasar modal global dan domestik kembali mengalami tekanan risiko geopolitik.

Ketegangan ini mendorong harga minyak dunia naik tajam karena kekhawatiran gangguan pasokan, yang memicu inflasi dan meningkatkan volatilitas pasar,” ujar Reydi saat dihubungi Kompas.com, Minggu (1/3/2026).

Baca Juga: Perang AS-Iran Bisa Bikin Harga Emas Dunia Tembus ke Level US$ 6.000

Mengutip CNBC, kontrak berjangka minyak mentah Brent naik sebesar US$ 1,73 atau 2,45% menjadi US$ 72,48 per barrel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$ 1,81 atau 2,78% dan menetap di posisi US$ 67,02 per barrel pada perdagangan Jumat (27/2/2026) kemarin.

Kekhawatiran atas eskalasi konflik mendorong investor global mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman seperti emas dan obligasi.

Perpindahan dana ini menekan pasar saham, termasuk IHSG, yang dalam jangka pendek cenderung bergerak melemah.

Tekanan muncul dari aksi jual pelaku pasar, arus modal asing yang keluar dari pasar negara berkembang, serta meningkatnya sentimen risk-off secara global.

“IHSG cenderung terkoreksi karena aksi jual, arus modal keluar asing, dan sentimen risiko global yang meningkat,” paparnya.

Namun, arah pergerakan IHSG sangat bergantung pada perkembangan situasi.

Jika konflik tetap terkendali dan tidak meluas menjadi krisis yang lebih besar, koreksi yang terjadi berpotensi bersifat sementara.

Dalam kondisi tersebut, peluang rebound terbuka ketika sentimen membaik dan investor kembali masuk ke aset berisiko.

Tonton: Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei Dikabarkan Tewas dalam Serangan Udara Israel - AS

Sebaliknya, apabila ketegangan terus meningkat dan memicu ketidakpastian berkepanjangan, volatilitas pasar bisa semakin dalam dengan tekanan lanjutan terhadap indeks.

Dalam situasi seperti itu, investor disarankan untuk mengamankan sebagian atau bahkan seluruh dana guna menjaga likuiditas.

Langkah ini penting agar investor memiliki fleksibilitas untuk memanfaatkan peluang ketika IHSG terkoreksi dan valuasi saham menjadi lebih menarik.

“Bila (perang) berlanjut, volatilitas bakal lebih dalam dengan tekanan lanjutan pada indeks. Investor sebaiknya mengamankan sebagian atau keseluruhan dana guna untuk mengambil peluang saat indeks terkoreksi,” beber Reydi.

Senada, Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai dalam kondisi pasar yang dibayangi ketegangan geopolitik, investor ritel perlu mengedepankan disiplin dan selektivitas dalam mengambil keputusan.

Menurutnya, tidak semua kondisi pasar harus direspons dengan aksi agresif, melainkan disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor.

“Bagi investor ritel, sikap terbaik adalah disiplin dan selektif. Jika memiliki profil agresif, momentum di sektor komoditas bisa dimanfaatkan dengan manajemen risiko yang ketat,” kata Hendra.

Bagi investor dengan karakter agresif, momentum di sektor komoditas masih dapat dimanfaatkan, terutama ketika harga energi dan emas mengalami kenaikan akibat konflik global.

Namun, strategi tersebut harus dijalankan dengan manajemen risiko yang ketat, termasuk pengaturan batas kerugian dan ukuran posisi agar potensi tekanan pasar tetap terkendali.

Sementara itu, bagi investor yang cenderung konservatif, pendekatan wait and see dinilai lebih relevan.

Investor perlu memantau perkembangan konflik, pergerakan harga komoditas global, serta arus dana asing sebelum mengambil keputusan lanjutan.

Baca Juga: IHSG Terancam Turun ke Kisaran 8.000, Dampak Memanasnya Konflik Timur Tengah

Dalam situasi geopolitik yang memanas, lanjut Hendra, kunci keberhasilan bukan semata-mata menentukan kapan masuk atau keluar pasar, melainkan kemampuan membaca rotasi sektor dan menjaga risiko portofolio agar tetap terkendali di tengah volatilitas.

“Dalam situasi geopolitik yang panas kunci bukan sekadar masuk atau keluar pasar, melainkan kemampuan membaca rotasi sektor dan menjaga risiko agar tetap terkendali,” pungkasnya.

Artikel ini sudah tayang di Kompas.com berjudul "Perang Israel-Iran Berpotensi Guncang IHSG, Investor Ritel Harus Apa?"

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU

×