Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Memasuki kuartal pertama tahun 2026, peta jalan investasi global tengah menghadapi tantangan baru yang cukup pelik.
Kebijakan ekonomi Amerika Serikat (AS) kini memasuki era dominasi fiskal yang ditandai dengan tumpukan utang dan defisit anggaran yang persisten mulai membayangi kebijakan moneter bank sentral AS Federal Reserve (The Fed).
Laporan terbaru The Development Bank of Singapore Limited atau DBS Bank menyoroti bahwa independensi The Fed kini tengah dipertaruhkan.
Chief Investment Officer DBS, Hou Wey Fook mengatakan, ketika pasar menangkap sinyal bahwa bank sentral tak lagi independen dalam mengendalikan inflasi akibat tekanan beban utang pemerintah, maka ekspektasi inflasi akan kembali melonjak.
"Bagi investor, ini bukan lagi sekadar risiko teoretis, melainkan tantangan praktis yang harus segera diantisipasi," kata dia.
Lindungi nilai dengan aset riil
Di tengah ancaman inflasi yang bersifat persisten instrumen tradisional seperti kas mulai kehilangan daya tariknya.
Dalam kondisi seperti itu, Hou menyarankan investor untuk lebih agresif masuk ke aset riil (real assets).
Infrastruktur, real estat, komoditas, hingga logam mulia dinilai sebagai instrumen aman yang secara historis selalu mencatat kinerja di atas rata-rata saat siklus inflasi tinggi.
Logam mulia seperti perak, dipandang sebagai alternatif diversifikasi yang menarik di samping saham-saham S&P 500 yang sudah mencapai titik jenuh.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp 16.877: Level Terlemah Sepanjang Sejarah! Apa Pemicunya?
Menunggangi gelombang AI
Investasi pada sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) diprediksi masih akan menjadi primadona. Namun, ada perubahan pendekatan.
Ketika sebelumnya pasar fokus pada penyedia teknologi utama, kini saatnya melirik perusahaan pengadopsi AI (AI adapters).
Perusahaan-perusahaan ini adalah mereka yang mampu memanfaatkan teknologi AI untuk menggenjot efisiensi dan profitabilitas.
Langkah ini dipandang lebih aman untuk menghindari jebakan valuasi yang terlalu mahal pada perusahaan teknologi besar (Big Tech).
Sebagai gambaran, belanja infrastruktur AI diproyeksikan mencapai 1,4 triliun dollar AS hingga 2027 mendatang.
Melirik potensi Asia di luar Jepang
Salah satu rekomendasi taktis yang menarik untuk 2026 adalah beralih ke pasar saham Asia di luar Jepang (Asia ex-Japan).
Beberapa alasan mendasar adalah karena valuasi yang murah.
Pasar Asia saat ini diperdagangkan dengan diskon mencapai 32,4% dibandingkan pasar negara maju.
Selain itu, indeks Dollar (DXY) diprediksi melandai ke level 94,8 pada akhir 2026, yang biasanya menjadi katalis positif bagi aliran modal masuk (capital inflow) ke pasar Asia.
Pasar Asia di luar Jepang juga memiliki potensi pertumbuhan laba yang diperkirakan tumbuh kuat di angka 18,9% pada 2026.
Baca Juga: Modal Rp10.000: Cara Mudah Beli Reksadana BRImo, Bebas Biaya!
Fokus pada kualitas (quality matters)
Di pasar obligasi dan saham, ia mengingatkan agar investor tidak terjebak pada instrumen spekulatif yang menawarkan imbal hasil tinggi tetapi berisiko besar (high beta stocks).
Resiliensi portofolio di tahun 2026 akan sangat bergantung pada aset berkualitas tinggi.
Pilihannya jatuh pada ekuitas yang memiliki fundamental kuat serta surat utang peringkat investasi (investment grade) dengan tenor 5 hingga 7 tahun.
Obligasi jenis ini dinilai lebih mampu bertahan di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi dibandingkan obligasi berimbal hasil tinggi (high yield) yang rasionya mulai tidak menarik.
Potensi emas dan sektor pertahanan Eropa
Menurut Hou, emas tetap menjadi pilihan utama sebagai lindung nilai terhadap risiko keberlanjutan utang AS dan ketidakpastian geopolitik.
Di sisi lain, saham sektor pertahanan di Eropa juga layak dikoleksi seiring dengan komitmen negara-negara NATO untuk meningkatkan anggaran pertahanan hingga 5% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2035.
Baca Juga: Target IHSG 9.800: Sektor Komoditas Mana yang Wajib Anda Koleksi?
Fokus pada strategi investasi jangka panjang
Dalam menghadapi gejolak pasar ddan arah kebijakan moneter yang belum pasti, investor dapat fokus pada strategi jangka panjang.
Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, mengatakan bahwa kunci menghadapi pasar yang berfluktuasi adalah fokus pada strategi jangka panjang dan tidak panik menghadapi pergerakan harga.
“Investor perlu menetapkan tujuan keuangan dan memahami profil risikonya sejak awal agar tetap tenang saat pasar volatil,” ujar Wahyu.
Wahyu menilai diversifikasi portofolio menjadi langkah penting agar investor tidak terlalu bergantung pada satu instrumen.
Ia menyarankan pembagian aset ke saham, obligasi, properti, dan emas, serta melakukan rebalancing berkala agar komposisi tetap ideal.
“Strategi ini membantu investor menjual saat harga tinggi dan membeli saat harga rendah secara otomatis,” kata dia.
Untuk meminimalkan risiko, Wahyu merekomendasikan fokus pada saham berfundamental kuat (blue chip) dan obligasi pemerintah.
Adapun emas tetap menjadi instrumen lindung nilai yang efektif di tengah ketidakpastian global.
Baca Juga: Orang Tua Wajib Tahu! Ini 3 Rekening BCA untuk Anak dan Syarat Pembukaan
Disiplin investasi jadi kunci
Sementara itu, analis BRI Danareksa Sekuritas Chory Agung Ramdhani menyebut disiplin investasi jangka panjang menjadi strategi terbaik menghadapi ketidakpastian pasar.
Ia merekomendasikan metode dollar-cost averaging (DCA), yaitu berinvestasi rutin tanpa memedulikan fluktuasi harga.
Menurut Chory, arah investasi ke depan akan banyak tertuju pada sektor hilirisasi komoditas dan energi baru terbarukan (EBT).
Meski begitu, sektor perbankan besar tetap dianggap sebagai penopang stabilitas pasar.
“Obligasi negara juga menawarkan pendapatan tetap yang stabil di tengah ketidakpastian suku bunga global,” ujar dia.
Chory menyarankan agar investor menyesuaikan porsi aset dengan tingkat risikonya masing-masing.
Untuk investor konservatif, fokus pada stabilitas, dengan 40 sampai 60% dana di obligasi, 20 sampai 40% di kas atau reksa dana pasar uang (RDPU), dan 10 sampai 30% di saham.
Sementara itu, investor moderat bisa menjaga keseimbangan, dengan 40 sampai 60% di saham, 30 sampai 40% di obligasi, dan 10 sampai 20% di kas atau reksa dana pasar uang (RDPU).
Tonton: Krisis The Fed Jerome Powell Terjerat Ancaman Dakwaan Pidana
Di sisi lain, investor agresif dapat mengejar pertumbuhan, dengan 60 sampai 80% di saham atau reksa dana saham, serta 10 sampai 20 persen di kas.
“Dengan alokasi yang sesuai, investor dapat menghadapi gejolak pasar dengan lebih tenang dan tetap siap memanfaatkan peluang,” kata Chory.
Artikel ini sudah tayang di Kompas.com berjudul "Ada Risiko Fiskal AS, DBS Ungkap Strategi Investasi Paling Cuan 2026"
Selanjutnya: 5 Amalan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW Paling Dianjurkan, Buka Pintu Rahmat Allah
Menarik Dibaca: 5 Amalan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW Paling Dianjurkan, Buka Pintu Rahmat Allah
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













